Gua dan Haru langsung naik ke lantai 1, nyari kelas kosong yang adem (pas itu lagi jam 12.00, bayangin aja betapa panasnya lapangan).
Akhirnya, gua dan Haru sampai di kelas Biologi.
Gua kaget pas liat di dalem kelas itu ada....
"Ngapain lu pada di sini?" tanya gua.
"Ya, bolos, lah. Lagian kita disuruh Ms. Tina buat masukkin nilai agama murid-murid ke daftar nilai guru. Nih," kata Fei sambil nunjukkin map biru yang berisi daftar nilai agama murid-murid.
"Jadi, daritadi lu pada di sini? Ga ikut pelajaran Pak Abe?" selidik Haru.
"Ya, ga, lah. Panas begini," jawab Felline.
"Enak banget!" seru gua sambil pasang muka merengut, tapi malah keliatan kayak pengen buang air.
Tiba-tiba, Aley ikut bicara, "Ya, elu, rajin banget, pake ke lapangan segala."
(Informasi: Aley itu cowok).
Selama 30 menit ke depan, gua dan Haru ngedumel tetang kesotoyan Pak Abe ke Aley, Fei, dan Felline.
Aley: "Ya, elu, ngapain ke lapangan, kita aja ga dikenal sama Pak Abe. Ga mungkin dilaporin, mau juga dia yang kena marah gara-gara mengganggu latihan upacara kelas kita. Kita kan udah ijin ke Pak Iswan."
Fei: "Lu ga liat? Anak kelas kita, Fita, Valent, sama Andri, di bawah bertiga nyetel tape sekolah, muter lagu sekenceng-kencengnya."
Gua: "Iya, gua liat. Gua males nanya ke mereka. Udah pengen masuk tempat adem aja."
Setelah istirahat selesai, gua dan Haru berencana bolos kayak 6 orang tadi, tapi sayangnya, ga ada yang nemenin.
Aley, Fei, Felline mendadak ilang.
Fita, Valent, Andri males diajak bolos.
Yang lain? Dengan oon-nya mengikuti perintah Pak Abe.
Di akhir pelajaran, gua merasa gua hidup lagi.
Akhirnya!
Penderitaan tanpa batas ini akan berbatas juga.
Gua pikir, setelah bel sekolah yang serem itu bunyi, gua bisa langsung lari pulang (ga, sih, sebenernya gua naik mobil, ga jalan kaki.... Biar dramatis aja sedikit), tapi Pak Abe dengan muka yang disedih-sedihkan menahan anak murid pulang dan "berpidato" di depan murid.
Pak Abe: "Anak-anak sekalian, saya tahu saya bukan Pak Iswan."
Gua (dalam hati): "Gua juga tau, oke."
Pak Abe: "Saya juga punya cara mengajar yang berbeda dari Pak Iswan."
Gua (dalam hati): "Gua juga tau, oke."
Pak Abe: "Tapi, minimal hargai saya."
Gua (dalam hati): "What the hell?! Kalo saya ga ngehargain Bapak, saya ga bakal ikut pelajaran Bapak! Saya bakal bolos kayak anak yang lain! Pikir! Pikir!"
Gua bilang, Pak Abe itu guru yang apa banget.
Konyol.
Ga kepantesan.
Kalo murid ngasih salam, dia malah ngedongak ke atas, kayak orang keselek aja.
Ga sopan.
Gua pikir guru yang baik itu setidaknya: ramah dan bisa mentolerir murid, mikir pake otak, dan ga macem-macem.
Sekian!
Daah~ (komputer mau dibajak engko gua)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar